RINGKAS BUKU
DOKMATIKA III
(KESELAMATAN BERSYARAT ATAU TIDAK BERSYARAT)
“DUCATI GAY”
BAB 2
PERNYATAAN
TENTANG RENCANA ALLAH
A. Keselamatan itu bersyarat atau tanpa syarat
Pertanyaan ini telah
memecah belah dunia Theologia kristen sejak zaman para bapak Geeja.
Denominasi-denominasi kristen sekarang masih juga secara tajam terpecah belah
oleh pertanyaan ini. Tentu kita perlu menganalisi dan menyetujui salah satu antara
keduanya. Apa yang di jadikan standar bukti bagi kesimpulan kita? suatu Doktrin
Alkitab tidak hanya karena seseorang membuat suatu pernyataan yang Dokmatik
(Red, suatu hal yang dirasa tidak dapat dibuktikan, tetapi yang harus di terima
dan dipercayai sebagaimana adanya).
Berdasarkan Doktrin
itu, telah ada selama berabad-abad. Bahkan diantara para bapak Gereja juga
telah terjadi perpecahan antara keselamatan bersyarat atau keselamatan tanpa
bersyarat. Bagaimana kita memilih salah satu atau mengetahu siapa yang benar?
Rasul Paulus berkata “Ujilah = Buktikan. Segala sesuatu, peganglah yang baik.”
(1Tesalonika 5:21). Tidak ada yang lebih penting dari pada membuktikan
kebenaran Doktrin-doktrin kita, jadi harus ada cara tertentu membuktikannya.
KESELAMATAN ITU BERSAYARAT ATAU TANPA SYARAT?
Keselamatan yang Bersyarat
Dari kitab Kejadian samapai Wahyu ada delapan hukum
penafsiran yang diakui secara luas diseluruh Dunia untuk membuktikannya. Alangkah
baiknya untuk mengetahui pertanyaan ini, kita harus mengetahui beberapa fakta
sejarah yang melatarbelakanginya. Mengetahui asal mula dan sejarah suatu
Doktrin adalah penting untuk mengerti tentang doktrin itu dengan seksama. Salah
satunya yang paling menonjol adalah :
1.
Agustinus, ia
adalah seorang Imam katholik dari abad ke-5 (354-430) di Afrika. Ia, secara
umum dipandang sebagai yang terbesar diantara para bapak Gereja, dan seoranng
jenius dalam Theologia. Doktrinnya sangat mempengaruh dalam zaman abad
pertengahan, dan pengaruh terhadap Dunia Theologia kristen sangat luarbiasa.
Pengaruhnya secara umum dapat mempengaruhi para pemimpin Gereja pada waktu itu,
pengaruhnya itu terus berlangsung selama lebih dari seribu tahun.
Doktrin
Agustinus tentang Predestinasi adalah sebelum pencipta Dunia Allah telah
merancang suatu ketetapan untuk menebus sejumlah orang tertentu di dala Kristus
dan menerapka kepada mereka kehendaknya. Allah dari dahulu telah melihatnya
terlebih dahulu, Predestinasi adalah sebab dari keselamatan. Semua peraturan
yang membuat orang samapai pada keselamatan adalah hanya orang-orang yang telah
ditentukan atau yang telah Allah pilih selama terlebih dahulu/dari dulu. barang
siapa yang telah dipilih Allah dari dahulu maka ia akan selamat, begitu pula
sebalaiknya. Beberapa ahli Theologia mengikuti ide-ide Agustinu.
2.
Pelagius, lawan
utama Agustinus ia adalah seorang Imam berkebangsaan Inggris. Yang hidup pada
abad ke-5. Ia menatang predestinasi Agustinus, dan menegaskan pada kehendak
bebas pada manusia untuk berbuat baik atau jahat. Pelagiu menegaskan bahwa,
karena Allah telah menegaskan Manusia untuk melakukan kehendak baik, sebab itu
ia pasti mempunyai kemampuan untuk melakukannya. Denagan kata lain manusia itu
bebas dan karena itu adalah mungkin bagiannya memutuskan, apakah ia menurut
atau melawan. Kemungkinan besar berbuat dosa atau tidak. Dan manusia berhak
bebas memilih salah satu dari keduannya.
3.
Calvin, (1509-1564)
di Jenewa, Ia adalah seorang Pendeta
dan Profesional Theologia. Ia memabntu berdirinya Theokratik. Jenewa adalah
pusat pembelaan protestanisme di seluruh Eropa. Calvin mengajarkan bahwa “Oleh
karenanya manusia jatuh, pemeliharaan Allah sudah sedemikian mengatur, tetapi
manusia jatuh oleh kesalahannya sendiri.” Ia berkata bahwa tidak ada penyebab
lain dari keselamatan selain dari kehendak Allah yang mutlak dan tanpa
bersyarat.
4.
Arminius, (1560-1609)
Ia adalah seorang Pendeta Belanda. Pada mulanya I membela pandangan-pandangan
Kalvin tetapi setelah ia belajar lebih dalam, Ia percaya seperti lawan-lawan
Calvin. Ia terlibat dalam Argumantasi-argumentasi yang pahit tentang
Calvinisme, dengan menolak Dokterin predestinasi Absolut Agustinian –
Calvinisme, dan mengajarkan Predestiani bersyarat.
Selama perdebatan
tentang Doktrin itu yang berlangsung ber abad-abad, kekacauan semakin meluas.
Kebingunan semakin tidak pernah berhenti hingga pada hari ini. Dalam usaha
menyelesaikan permasalahan perselisihan itu, berkumpulah Dewan Dort (1618-1619)
yang terkenal itu suatu Dewan yang tak ada persamaanya dalam sejarah
protestanisme. Dewan Dort dimaksudkan
untuk menjadi suatu Dewan umum dari semua Gereja Calvinis untuk mengadili
Arminianisme. Sebagian besar perwakilan adalah dari kalangan Calvinis. Hadir
disana, 84 Ahli Theologia dan 18 orang
dari komisi kaum Awan. Pemerintahan sipil mengirimkan beberapa delegasinya untuk
mewakili Negara masing-masing. Wakil-wakil yang hadir disana adalah dari : Swis, Nassau, Hesse, Bremen, Skotlandia dan
Inggris. Dewan itu bertemu dalam 154 sidang resmi yang berlangsung dari
Nopember 1618 sampai dengan Mei 1619.
Dewan Dort tidak
menyelesaikan apa-apa dalam hal perselisihan yang telah berlangsung selama 1300
tahun ini, demikina juga dengan Dewan-dewan Gereja yang penting dari mulai
Dewan Nice (324 AD) sampai Dewan Trent (1545-1563), juga gagal menyelesaikan
pertanyaan-pertanyaan Doktrinal yang dibawa kehadapan mereka.
Kita tidak diajarkan
oleh akal, tetapi oleh Wahyu. Diajarkan dalan (Efesus 1:13-14), bahwa setelah
orang percaya, “suatu tindakan yang selesai dikerjakan”, Ia dementeraikan Roh
kudus samapai pada penebusan milik yang sudah dibeli. Jadi mari kita belajar
lebih dalam, jangan kita menjadi calvinis atau Arminian, tetapi mari kita
mencari kebenaran yang tidak menerima apa-apa selain dari fakta-fakta yang
telah Terbukti. Yesus berkata:
“Keselamatan itu datang dari bangsa Yahudi” (Yoh. 4:22).
BAB 3
KESELAMATAN BERSYARAT SEJAK DARI AWAL
A.
Syarat Jika
Allah Bagi Kain dan Habel
Setelah beberapa waktu lamanya,
maka KAIN mempersembahkan sebagian
dari hasil tanah itu kepada Tuhan sebagai korban persembahan. HABEL juga mempesembahkan korban
persembahan dari Anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya, maka Tuhan
mengidahkan HABEL dan korban persembahannya itu, tetapi kain dan korban
persembahannya tidak iindahkaknnya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan
mukanya muram. Firman Tuhan kepada Kain : “Mengapa hatimu panas dan mukamu
muram? “Jika engkau melakukan
dengan baik, tidakkah engkau akan diterima.” Tetapi jika engaku tidak berbuat baik/tidak melakukannya dengan baik. Dosa
sudah mengintip di depan pintu, ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus
berkuasa atasnya (Kejadian 4-3-7).
Cerita ini adalah
sangat terbukti bahwa Allah dengan jelas menyatakan syarat-Nya kepada KAIN.
Persembahan Kain, “Hasil tanah”, Ditolak oleh Allah. Dan persembahan Habel,
“Anak sulung dari kambing dombanya dari lemak-lemaknya (KJV) di terima oleh
Allah. Perkenaan Allah akan Habel adalah karena Korbannya yang lebih baik
(Ibrani 11:4). Kain dapat melakukan apa yang diberikan Habel, Jika saja Kain
memenuhi persyaratan yang di kehendaki Allah tentang persembahan, Iapun akan
diperkenan. Rasul Yohanes menulis “Bukan seperti Kain, yang berasal si jahat,
dan yang membantai Adiknya. Dan mengapa Ia membantai Adiknya? Karena
pekerjaanya sendiri adalah jahat, dan pekerjaan Adiknya Benar” (1Yohanes 3:12.)
Kain orang yang murtad
pertama di Dunia, menolak persyaratan: “Jika” dari Allah. Kain yang jahhat
menyembah Allah tetapi bukan dari “Iman”. Tetapi oleh Iman Habel
mempersembahkan kepada Allah suatu korban yang lebih baik dari pada Kain,
dengan mana Ia memperoleh kesaksan bahwa Ia benar, Allah bersaksi dari hal
pemberian-pemberiannya, dan oleh karenanya Ia tetap berbicara sekalipun Ia
telah mati. (Ibrani 11:4).
Iman tanpa perbuatan
adalah sia-sia (Yakobus 2:20). Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan
perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. (Titus 1:16). Roh penyembah Kain
berlanjutsampai pada zaman kita. Rasul Yudas berkata, “Celakalah mereka
ke\arena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain (Yudas Ayat 11a). Seperti
halnya menolak syarat – Jika Allah, demikian juga dewasa ini ibadat cara kain juga
menolaknya. Waspadalha terhadap bentuk ibadat yang menolak “Jika” Allah. CALVINIS, “Mereka yang di selamatkan bukan
diselamatkan karena iman mereka atau pertobatan mereka atau alasan-alasan
lainyang ada pada mereka”. Jadi panggilan Allah di lakukan, adalah dalm rangka
untuk menggenzpi maksud Allah sendiri, terlepas dari segala perbuatan yang
dilakukan oleh orang yang diselamatkan.
BAB 4
KESELAMATAN BERSYARAT DALAM PERJANJIAN ABRAHAM
Pada hari itulahn Tuhan
mengadakan perjanjian dengan Abraham. (Kejadian 15:18). Dari pihak-Ku, inilaah
perjanjian-Ku dengan engkau. (Kejadian 17:4). Aku akan mengadakan perjanjian
antara aku dan engkau serta dengan keturunanmu turun-temurun. (Kejadian 17:7).
Apa itu
Perjanjian? Suatu perjanjian
Alkitab adalah pernyataan Allah tentang kehendaknya, maksud/tujuan/rencanaNya,
atau ketetapanNyaterhadap mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk dalam
perjanjian itu. Ia menjamin bahwa sesuatu dilakukan atau akan dilakukan bagi
penerima perjanjian itu bila Ia memenuhi syarat-syarat dalam perjanjian itu.
Memperlihatkan bahwa perjanjian-perjanjian Allah adalah bersyarat. perjanjian
Allah dengan Abraham menentukan suatu syarat yang keras sejak dari permulaan :
Ø Berfirman Tuhan kepada Abraham: “Pergilah dari
negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini kenegeri yang akan
kutunjukan kepadamu, lalu pergilah Abraham seperti ynag difirmankan Tuhan
kepadanya. (Kejadian 12:1,4). Sejarah Israel dimulai dengan Abraham. Dalam
Alkitab Ia disebut “Bapak bangsa Yahudi. Segala urusan Allah yang berhubungan
dengan Israel diwaktu lampau, sekarang, dan yang akan datang dilakukan dengan
perjanjian Abraham sebagai dasarnya. Keselamatan didasarkan atas perjanjian
Abraham dan iniadalah suatu perjanjian yang bersyarat.
Ø Perjanjian baru didasarkan pada perjanjian Abraham.
Rencana Allah yang kekal tentang keselamatan dirancang “sebelum dunia
dijadikan” (Matius 25-34, Efesus 1:4). Tetapi rencana ini digenapkan melalui
perjanjian Abraham. “Juruselamat kita dibunuh sebelum dunia dijadikan” (Wahyu
13:8). Tetapi sang juruselamat berkata, “Keselamatan datang dari bangsa Yahudi
(Yohanes 4:22). Paulus menegaskan bahwa Kristus adalah keturunan Abraham
(Galatia 3:16) perjanjian Abraham adalah merupakan dasar bagi semua tentang
Mesias. Karena iman Abraham, taat ketika ia dipanggil untuk berangkat ke Negeri
yang akan di terimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak
mengetahui tempat yang ia tujui. (Ibrani
11:8).
1.
Inilah Syarat Pertama
Apa yang Allah janjikan
akan dilakukan bagi Abraham adalah dengan syarat ia meninggalkan negerinya,
rumahnya, dan kaum keluarganya. Jika Abraham tidak ‘Menaati’ syarat ini,
mungkin kita tidak akan pernah mendengar tantangan Dia. Tetapi oleh iman ia
meninggalkan semuanya itu dan pergi keluar serta masuk kedalam suatu pencobaan
hidup sebagai rekan perjanjian.
Sebab semua orang yanng
dipilihnya dari semula, mereka juga yang ditentukanNya dari semula, dan mereka
juga yang dipanggl juga di benarkan. (Roma 29:30). Kita dipanggil Allah untuk
menjadi orang-orang kudus, #Allah memanggil untuk kudus ( 1Tes. 4:7). #merebut
hidup yang kekal (1Tim. 6:12). #panggilan Kudus (2Tim. 1:9).
Allah memanggil Abraham
untuk meninggalkan semua. Yesus berkata dalam (Lukas 14:13). Meninggalkan semua
adalah tindakan Iman. Tindakan iman Abraham adalah tindakan menggenapi syarat
Allah bagi keselamatanNya. Dengan iman Abraham, ia menggenapi syarat-syarat panggilan Allah
dalam hidupnya.
2.
Syarat Kedua
Ketika Abraham berumur
sembilan puluh sembilan tahun, maka Tuhan menampakan diri kepada Abraham, dan
berkata : Akulah Allah yang mahakuasa, aku akan mengadakan perjanjian antara
Aku dan engkau. Lalu sujudlah Abraham. Lihat di (Kejadian 17:1-4). Ia yang
diselamatkan wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup. (filipi 3:17 mereka
yang gagal dalam “uji-hidup” tidak selamat.
3.
Syarat Ketiga
ü Allah berfirman kepada Abraham:Dari pihakmu, engkau
memegang perjanjianku dan keturunanmu.
ü perjanjian yang harus dipegang, setiap laki-laki
diantara kamu harus disunat.
ü anak yang berumur 8 hari harus disunat.
ü orang yang dirumamu dan orang yang engkau beli
dengan uang harus disunat.
ü Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang
tidak dikerat kulit khatatnya, maka orang itu harus dilenyapkan. (Kejadian 17:9-14).
Setelah semuanya itu
Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: Abraham, Lalu sahutnya, Ya,
Tuhan. Ambilah Anakmu yang engaku kasihi dan yang tunggal itu, persembahkanlah
Dia sebagai korban bakaran. Abrahm melakukan permntaan Allah, Ia mengulurkan
tanganNya dan mengambil pisau untuk mengembelih AnakNya. Lalu berseru malaikat! Abraham-Abraham jangan
bunuh anak itu, sebab telah kuketahui engkau takut akan Allah. (Kejadian 22:1,2
; 10-12).
Allah berkata kepada
Abraham Katanya “Aku bersumpah demi diriKu sendiri, demikianlah Firman Tuhan.
Karena engkau telah berbuat demikian oleh keturunanmulah semua bangsa dibumi
ini akan mendapat berkat, karena engkau telah mendengarkan (Menaati FirmanKu.
Kejadian 22:16-18). Allah mengenal lebih
dahulu tentang Abraham, yaitu bahwa Ia telah mengenal Abraham terlebih dahulu
sebelum Abraham dilahirkan. (Kejadian 18:19. Dimana Allah berkata bahwa Ia
mengenal Abraham dan mengetahui apa yang akan diperbuatNya.
Allah memberi Abraham
suatu perjanjian kekal dan suatu Kerajaan kekal “Karena” Ia mentaati
syarar-syarat perjanjia Allah. Allah juga memberikan kepada kita suatu
perjanjian hidup yang kekal, jika kita “Melakukan pekerjaan Abraham, Alkitab
memberi tahu tentang Iman Abraham.
Perjanjian-perjanjian
Allah membawa suatu jaminan yang betul-betul terjamin. Perjanjian itu adalah
alat untuk menghasilkan kepastian, dan merupakan suatu perjanjian yang pasti.
Tetapi kepastian Ilahi ini ditiadakan bagi semua mereka yang melanggar
syart-syaratNya.
BAB 5.
SYARAT – JIKA DALAM PERJANJIAN SINAI
Perjanjian sinai adalah
berdasar Pada perjanjian Abraham. Itu adalah perkembangan lebih lanjut dari
perjanjian Abraham, dan seperti halnya dengan perjanjian Abraham, perjanjian
ini adalah juga suatu perjanjian dan bersyarat. ketiak Musa menawarkan kepada
Israel tawaran perjanjian Allah, mereka diberi waktu untuk mempertimbangkan
syarat-syarat. Perjanjianitu di bicarakan kepada mereka lagi pada hari kedua
mereka dapat menerima atau menolaknya. Dengan kehendak bebas mereka, mereka
dapat berkata ya atai tidak. Itulah perjanjian yang Allah tawarkan kepada
mereka.
Pada bulan ketiga
setelah orang Israel keluar dari tanah Mesir, mereka tiba dipadang Gurun Sinai
ada hari itu juga. Dan lihat disini selengkapNya (Keluaran 19:1-6, 24:6-8).
Allah menjamin semua janji dan ketetapan yang telah dia janjikan dalam
perjanjian itu, tunduk dibawah syarat-syarat – Jika. Jika perjanjian itu tidak
terlaksana bagi mereka, kesalahan hanya ada pada mereka. Tetapi sang pembuat
perjanjian mewajibkan, bahwa untuk masuk dalam berkat perjanjianNya itu, kita
harus masuk juga kedalam syarat-syarat perjanjian itu.
Macam-macam hukuman
ditentukan terhadap para pelanggar perjanjian. Mereka dikerat dari perjanjian
dan seringkali hukuna mati dijatuhkan keatas putra-putra perjanjian itu, mereka
dibunag dari perjanjian dan dibunuh. Dan juga para pelanggar juga kehilangan
nyawanya. Itu adalah Dosa yang mendatangkan maut. (1Yohanes 5:16). Pelanggar
harus menanggung kesalahannya sendiri. (Imamat 17:16). Jika ada orang yang
menolak atau meremehkan hukum musa, ia akan dihukum mati tanpa belas kasihan.
(Ibrani 10:28). Tidak ada belas kasihan dari Allah, musa, maupun Israel. Allah
berfirman, siapa yang berdosa kepadaku, nama orang itulah yang kuhapuskan dari
dalam kitabku (Keluaran 32:33).
Yesus berkata :”Barang
siapa menang ia akan dikenakan pakaian putih yang demkian, aku akan tidak
menghapuskan namanya dari kitab kehidupan, melainkan aku akan mengaku namanya
dihadapan bapaku dan dihadapan para malaikatnya. (Wahyu 3:5). Dan (Roma 1:32. Ibrani
10:26-27. Imamat 26:3-28). Dalam Ulangan
27:15-26. Musa telah mendaftarkan 12 kutuk yang akan menimpa keatas mereka
apabila mereka melanggar perjanjian itu.
Dalam semua hubungan
Allah dengan kita, Ia menghargai kebebasan kita. syaratnya disini adalah
ketaantan karena percaya. Kata ibrani yang diterjemahkan “Taat” tampaknya
mengandung semua pengertian ini:
v Mendengar, mendengarkan, mempercayakan/memasrahkan,
bertidak menurut apa yang kita dengar dan percayai.
Apa bila kamu
meninggalkan Tuhan dan beribadah kepada allah asing, maka ia akan berbalik dari
padamu dan melakukan yang tidak baik kepada kamu serta membinasakan kamu,
setelah ia melakukan yang baik kepada kamu dahulu. (Yosua 24:20). Keselamatan
berasal dari bangsa Yahudi. Perjanjian Sinai adalah dari bangsa Yahudi, dan
bukti memberi dukungan yang kuat pada kesimpulan kita, bahwa perjanjian ini
adalah bersyarat.
PASAL 6
SYARAT-SYARAT DALAM PERJANJIAN DAUD
Perjanjian Abraham adalah pondasi
perjanjian Daud, dan juga pondasi perjanjian Baru. (Lukas 1:27, Kis. 3:25,
Galatia 3:16). Berkat-berkat dan syarat-syarat dalam perjanjian Abraham dan
diteruskan melalui generasi-generasi sesudahnya. Keturunan turun temurn menjadi
perjanjian kekal. (Kejadian 17:7) perjanjianitu bersyarat baik bagi Abraham
maupun bagi keturunannya. Perjanjian Abraham dimulai dengan ketaatan Abraham
pada panggilan Allah. Ketika Raja Saul dengan keras kepala dengan tidak menaati
perintah-perintah Tuhan, Allah memberi tahu Nabi samuel. (1Samuel 15:22-26).
Alasan Allah atas penolakan terhadapa
Saul sebagai Raja Israel. Pemberontakan / pendurhakaan Saul terhadap
perintah-perintah Allah adalah setara dengan “Dosa Pertenungan” dan penyembah
berhala. Saul ditolak dan diturunkan dari Takhta Karena Ia gagal menaati
Perintah-perintah perjanjian.
JIKA
saja Ia taat, Allah tidak akan
bermain-main dengan alasan pilih kasih. Daud dipilih untuk menggenapi
syarat-syarat yang gagaldipegang oleh Saul. (Kis. 13:22). Dau seperti Abraham,
mempunyai kualitas Rohani yang luar biasa. Ia bukan saja bergairah untuk
melakukan kehendak Allah, tetapi ia juga mempunyai kehausan yang sangat akan
Allah, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikian jiwaku
merindukan engkau, ya Allah. Jiwaku melekat kepada-Mu menompang aku. (Mazmur
42:2, 63:9).
Kristus dilahirkan bagi Israel untuk
menggenapi janji-janji yang dibuat bagi Abraham dab Daud. (Galatia 3:16, Roma
1:3). Keselamatan berasal dari bangsa Yahudi, tetapi keselamatan ini datang
sebagai hasil dari janji-janji yang diberikan kepada orang-orang yang menaati
syarat-syarat perjanjian yang telah dibuat bagi mereka. Dari Kain dan Habel
sampai pada perjanjian Abraham, sampai pada perjanjian Sinai, sampai pada
perjanjian Daud, pengulangan syarat “Jika”
dalam perjanjian-perjanjian itu tak pernah berhenti.
Asal saja Jika kamu takut akan Tuhan, beribadah kepadaNya, mendengarkan atau
menaati FirmanNya dan tidak menentang tintah Tuhan, dan baik kamu maupun Raja
yang akan memerintah kamu itu mengikuti dan terus mengikuti Tuuhan Allahmu! Tetapi
jikan kamu tidak mendengarkan firman Tuhan dan kamu menentang titah Tuhan, maka
tangan Tuhan akan melawan kamu dan melawan rajamu. (1Samuel 7:3, 12:14-15).
Samuel menjadikan sesuatu bregantung pada ketaatan mereka yang terus menerus
pada perjanjian.
Daud mengerti bahwa perjanjian yang
Allah berikan kepadanya ada;ah bersyarat. ia menegaskan fakta ini kepada salomo
sebelum anakNya itu menduduki takhtanya. Daud menyampaikan pesan Allah tentang
pemerintahanNya. (1Raja-raja 9:2-9; 8:1-61). Ketika Salomo melanggar perjanjian
dengan Allah dan masuk dalam Dosa penyembahan berhala, Allah melaksanakanNya
terhadap Dia karena kemurtadannya. Allah memberitahu Dia, didalam kitab
(1Raja-raja 11:11-13). (2Samuel 7:12-16).
Allah berjanjia kepada Daud bahwa
kerajaannya tidak akan berkesudahan seperti kerajaan Saul yang sudah berakhir.
Allah berjanji “Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian.” Pada pakar
Ibrani berkata bahwa kalimat ini dipakai dalam Pengertian Kolektif.