Rabu, 22 Februari 2017

Tugas Kuliah //



RINGKAS BUKU DOKMATIKA III

(KESELAMATAN BERSYARAT ATAU TIDAK BERSYARAT)

“DUCATI GAY”

BAB 2
PERNYATAAN TENTANG RENCANA ALLAH

A.    Keselamatan itu bersyarat atau tanpa syarat
Pertanyaan ini telah memecah belah dunia Theologia kristen sejak zaman para bapak Geeja. Denominasi-denominasi kristen sekarang masih juga secara tajam terpecah belah oleh pertanyaan ini. Tentu kita perlu menganalisi dan menyetujui salah satu antara keduanya. Apa yang di jadikan standar bukti bagi kesimpulan kita? suatu Doktrin Alkitab tidak hanya karena seseorang membuat suatu pernyataan yang Dokmatik (Red, suatu hal yang dirasa tidak dapat dibuktikan, tetapi yang harus di terima dan dipercayai sebagaimana adanya).
Berdasarkan Doktrin itu, telah ada selama berabad-abad. Bahkan diantara para bapak Gereja juga telah terjadi perpecahan antara keselamatan bersyarat atau keselamatan tanpa bersyarat. Bagaimana kita memilih salah satu atau mengetahu siapa yang benar? Rasul Paulus berkata “Ujilah = Buktikan. Segala sesuatu, peganglah yang baik.” (1Tesalonika 5:21). Tidak ada yang lebih penting dari pada membuktikan kebenaran Doktrin-doktrin kita, jadi harus ada cara tertentu membuktikannya. 

KESELAMATAN ITU BERSAYARAT ATAU TANPA SYARAT? 

*      Keselamatan yang Bersyarat
Dari kitab Kejadian samapai Wahyu ada delapan hukum penafsiran yang diakui secara luas diseluruh Dunia untuk membuktikannya. Alangkah baiknya untuk mengetahui pertanyaan ini, kita harus mengetahui beberapa fakta sejarah yang melatarbelakanginya. Mengetahui asal mula dan sejarah suatu Doktrin adalah penting untuk mengerti tentang doktrin itu dengan seksama. Salah satunya yang paling menonjol adalah : 

1.      Agustinus, ia adalah seorang Imam katholik dari abad ke-5 (354-430) di Afrika. Ia, secara umum dipandang sebagai yang terbesar diantara para bapak Gereja, dan seoranng jenius dalam Theologia. Doktrinnya sangat mempengaruh dalam zaman abad pertengahan, dan pengaruh terhadap Dunia Theologia kristen sangat luarbiasa. Pengaruhnya secara umum dapat mempengaruhi para pemimpin Gereja pada waktu itu, pengaruhnya itu terus berlangsung selama lebih dari seribu tahun.
Doktrin Agustinus tentang Predestinasi adalah sebelum pencipta Dunia Allah telah merancang suatu ketetapan untuk menebus sejumlah orang tertentu di dala Kristus dan menerapka kepada mereka kehendaknya. Allah dari dahulu telah melihatnya terlebih dahulu, Predestinasi adalah sebab dari keselamatan. Semua peraturan yang membuat orang samapai pada keselamatan adalah hanya orang-orang yang telah ditentukan atau yang telah Allah pilih selama terlebih dahulu/dari dulu. barang siapa yang telah dipilih Allah dari dahulu maka ia akan selamat, begitu pula sebalaiknya. Beberapa ahli Theologia mengikuti ide-ide Agustinu.
2.      Pelagius, lawan utama Agustinus ia adalah seorang Imam berkebangsaan Inggris. Yang hidup pada abad ke-5. Ia menatang predestinasi Agustinus, dan menegaskan pada kehendak bebas pada manusia untuk berbuat baik atau jahat. Pelagiu menegaskan bahwa, karena Allah telah menegaskan Manusia untuk melakukan kehendak baik, sebab itu ia pasti mempunyai kemampuan untuk melakukannya. Denagan kata lain manusia itu bebas dan karena itu adalah mungkin bagiannya memutuskan, apakah ia menurut atau melawan. Kemungkinan besar berbuat dosa atau tidak. Dan manusia berhak bebas memilih salah satu dari keduannya.
3.      Calvin, (1509-1564) di Jenewa, Ia adalah seorang Pendeta dan Profesional Theologia. Ia memabntu berdirinya Theokratik. Jenewa adalah pusat pembelaan protestanisme di seluruh Eropa. Calvin mengajarkan bahwa “Oleh karenanya manusia jatuh, pemeliharaan Allah sudah sedemikian mengatur, tetapi manusia jatuh oleh kesalahannya sendiri.” Ia berkata bahwa tidak ada penyebab lain dari keselamatan selain dari kehendak Allah yang mutlak dan tanpa bersyarat.
4.      Arminius, (1560-1609) Ia adalah seorang Pendeta Belanda. Pada mulanya I membela pandangan-pandangan Kalvin tetapi setelah ia belajar lebih dalam, Ia percaya seperti lawan-lawan Calvin. Ia terlibat dalam Argumantasi-argumentasi yang pahit tentang Calvinisme, dengan menolak Dokterin predestinasi Absolut Agustinian – Calvinisme, dan mengajarkan Predestiani bersyarat.

Selama perdebatan tentang Doktrin itu yang berlangsung ber abad-abad, kekacauan semakin meluas. Kebingunan semakin tidak pernah berhenti hingga pada hari ini. Dalam usaha menyelesaikan permasalahan perselisihan itu, berkumpulah Dewan Dort (1618-1619) yang terkenal itu suatu Dewan yang tak ada persamaanya dalam sejarah protestanisme. Dewan Dort dimaksudkan untuk menjadi suatu Dewan umum dari semua Gereja Calvinis untuk mengadili Arminianisme. Sebagian besar perwakilan adalah dari kalangan Calvinis. Hadir disana, 84 Ahli Theologia  dan 18 orang dari komisi kaum Awan. Pemerintahan sipil mengirimkan beberapa delegasinya untuk mewakili Negara masing-masing. Wakil-wakil yang hadir disana adalah dari : Swis, Nassau, Hesse, Bremen, Skotlandia dan Inggris. Dewan itu bertemu dalam 154 sidang resmi yang berlangsung dari Nopember 1618 sampai dengan Mei 1619.
Dewan Dort tidak menyelesaikan apa-apa dalam hal perselisihan yang telah berlangsung selama 1300 tahun ini, demikina juga dengan Dewan-dewan Gereja yang penting dari mulai Dewan Nice (324 AD) sampai Dewan Trent (1545-1563), juga gagal menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan Doktrinal yang dibawa kehadapan mereka.
Kita tidak diajarkan oleh akal, tetapi oleh Wahyu. Diajarkan dalan (Efesus 1:13-14), bahwa setelah orang percaya, “suatu tindakan yang selesai dikerjakan”, Ia dementeraikan Roh kudus samapai pada penebusan milik yang sudah dibeli. Jadi mari kita belajar lebih dalam, jangan kita menjadi calvinis atau Arminian, tetapi mari kita mencari kebenaran yang tidak menerima apa-apa selain dari fakta-fakta yang telah Terbukti. Yesus berkata: “Keselamatan itu datang dari bangsa Yahudi” (Yoh. 4:22).
BAB 3
KESELAMATAN BERSYARAT SEJAK DARI AWAL

A.   Syarat Jika Allah Bagi Kain dan Habel
Setelah beberapa waktu lamanya, maka KAIN mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada Tuhan sebagai korban persembahan. HABEL juga mempesembahkan korban persembahan dari Anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya, maka Tuhan mengidahkan HABEL dan korban persembahannya itu, tetapi kain dan korban persembahannya tidak iindahkaknnya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. Firman Tuhan kepada Kain : “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? “Jika engkau melakukan dengan baik, tidakkah engkau akan diterima.” Tetapi jika engaku tidak berbuat baik/tidak melakukannya dengan baik. Dosa sudah mengintip di depan pintu, ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya (Kejadian 4-3-7).
Cerita ini adalah sangat terbukti bahwa Allah dengan jelas menyatakan syarat-Nya kepada KAIN. Persembahan Kain, “Hasil tanah”, Ditolak oleh Allah. Dan persembahan Habel, “Anak sulung dari kambing dombanya dari lemak-lemaknya (KJV) di terima oleh Allah. Perkenaan Allah akan Habel adalah karena Korbannya yang lebih baik (Ibrani 11:4). Kain dapat melakukan apa yang diberikan Habel, Jika saja Kain memenuhi persyaratan yang di kehendaki Allah tentang persembahan, Iapun akan diperkenan. Rasul Yohanes menulis “Bukan seperti Kain, yang berasal si jahat, dan yang membantai Adiknya. Dan mengapa Ia membantai Adiknya? Karena pekerjaanya sendiri adalah jahat, dan pekerjaan Adiknya Benar” (1Yohanes 3:12.)
Kain orang yang murtad pertama di Dunia, menolak persyaratan: “Jika” dari Allah. Kain yang jahhat menyembah Allah tetapi bukan dari “Iman”. Tetapi oleh Iman Habel mempersembahkan kepada Allah suatu korban yang lebih baik dari pada Kain, dengan mana Ia memperoleh kesaksan bahwa Ia benar, Allah bersaksi dari hal pemberian-pemberiannya, dan oleh karenanya Ia tetap berbicara sekalipun Ia telah mati. (Ibrani 11:4). 
Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia (Yakobus 2:20). Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. (Titus 1:16). Roh penyembah Kain berlanjutsampai pada zaman kita. Rasul Yudas berkata, “Celakalah mereka ke\arena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain (Yudas Ayat 11a). Seperti halnya menolak syarat – Jika Allah, demikian juga dewasa ini ibadat cara kain juga menolaknya. Waspadalha terhadap bentuk ibadat yang menolak “Jika” Allah. CALVINIS, “Mereka yang di selamatkan bukan diselamatkan karena iman mereka atau pertobatan mereka atau alasan-alasan lainyang ada pada mereka”. Jadi panggilan Allah di lakukan, adalah dalm rangka untuk menggenzpi maksud Allah sendiri, terlepas dari segala perbuatan yang dilakukan oleh orang yang diselamatkan.

BAB 4

KESELAMATAN BERSYARAT DALAM PERJANJIAN ABRAHAM

Pada hari itulahn Tuhan mengadakan perjanjian dengan Abraham. (Kejadian 15:18). Dari pihak-Ku, inilaah perjanjian-Ku dengan engkau. (Kejadian 17:4). Aku akan mengadakan perjanjian antara aku dan engkau serta dengan keturunanmu turun-temurun. (Kejadian 17:7).
Apa itu Perjanjian? Suatu perjanjian Alkitab adalah pernyataan Allah tentang kehendaknya, maksud/tujuan/rencanaNya, atau ketetapanNyaterhadap mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk dalam perjanjian itu. Ia menjamin bahwa sesuatu dilakukan atau akan dilakukan bagi penerima perjanjian itu bila Ia memenuhi syarat-syarat dalam perjanjian itu. Memperlihatkan bahwa perjanjian-perjanjian Allah adalah bersyarat. perjanjian Allah dengan Abraham menentukan suatu syarat yang keras sejak dari permulaan :
Ø  Berfirman Tuhan kepada Abraham: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini kenegeri yang akan kutunjukan kepadamu, lalu pergilah Abraham seperti ynag difirmankan Tuhan kepadanya. (Kejadian 12:1,4). Sejarah Israel dimulai dengan Abraham. Dalam Alkitab Ia disebut “Bapak bangsa Yahudi. Segala urusan Allah yang berhubungan dengan Israel diwaktu lampau, sekarang, dan yang akan datang dilakukan dengan perjanjian Abraham sebagai dasarnya. Keselamatan didasarkan atas perjanjian Abraham dan iniadalah suatu perjanjian yang bersyarat.
Ø  Perjanjian baru didasarkan pada perjanjian Abraham. Rencana Allah yang kekal tentang keselamatan dirancang “sebelum dunia dijadikan” (Matius 25-34, Efesus 1:4). Tetapi rencana ini digenapkan melalui perjanjian Abraham. “Juruselamat kita dibunuh sebelum dunia dijadikan” (Wahyu 13:8). Tetapi sang juruselamat berkata, “Keselamatan datang dari bangsa Yahudi (Yohanes 4:22). Paulus menegaskan bahwa Kristus adalah keturunan Abraham (Galatia 3:16) perjanjian Abraham adalah merupakan dasar bagi semua tentang Mesias. Karena iman Abraham, taat ketika ia dipanggil untuk berangkat ke Negeri yang akan di terimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.  (Ibrani 11:8). 
1.      Inilah Syarat Pertama
Apa yang Allah janjikan akan dilakukan bagi Abraham adalah dengan syarat ia meninggalkan negerinya, rumahnya, dan kaum keluarganya. Jika Abraham tidak ‘Menaati’ syarat ini, mungkin kita tidak akan pernah mendengar tantangan Dia. Tetapi oleh iman ia meninggalkan semuanya itu dan pergi keluar serta masuk kedalam suatu pencobaan hidup sebagai rekan perjanjian.
Sebab semua orang yanng dipilihnya dari semula, mereka juga yang ditentukanNya dari semula, dan mereka juga yang dipanggl juga di benarkan. (Roma 29:30). Kita dipanggil Allah untuk menjadi orang-orang kudus, #Allah memanggil untuk kudus ( 1Tes. 4:7). #merebut hidup yang kekal (1Tim. 6:12). #panggilan Kudus (2Tim. 1:9).
Allah memanggil Abraham untuk meninggalkan semua. Yesus berkata dalam (Lukas 14:13). Meninggalkan semua adalah tindakan Iman. Tindakan iman Abraham adalah tindakan menggenapi syarat Allah bagi keselamatanNya. Dengan iman Abraham, ia  menggenapi syarat-syarat panggilan Allah dalam hidupnya.
2.      Syarat Kedua
Ketika Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka Tuhan menampakan diri kepada Abraham, dan berkata : Akulah Allah yang mahakuasa, aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau. Lalu sujudlah Abraham. Lihat di (Kejadian 17:1-4). Ia yang diselamatkan wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup. (filipi 3:17 mereka yang gagal dalam “uji-hidup” tidak selamat.
3.      Syarat Ketiga
ü  Allah berfirman kepada Abraham:Dari pihakmu, engkau memegang perjanjianku dan keturunanmu.
ü  perjanjian yang harus dipegang, setiap laki-laki diantara kamu harus disunat.
ü  anak yang berumur 8 hari harus disunat.
ü  orang yang dirumamu dan orang yang engkau beli dengan uang  harus disunat.
ü  Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatatnya, maka orang itu harus dilenyapkan. (Kejadian 17:9-14).
Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: Abraham, Lalu sahutnya, Ya, Tuhan. Ambilah Anakmu yang engaku kasihi dan yang tunggal itu, persembahkanlah Dia sebagai korban bakaran. Abrahm melakukan permntaan Allah, Ia mengulurkan tanganNya dan mengambil pisau untuk mengembelih AnakNya.  Lalu berseru malaikat! Abraham-Abraham jangan bunuh anak itu, sebab telah kuketahui engkau takut akan Allah. (Kejadian 22:1,2 ; 10-12).
Allah berkata kepada Abraham Katanya “Aku bersumpah demi diriKu sendiri, demikianlah Firman Tuhan. Karena engkau telah berbuat demikian oleh keturunanmulah semua bangsa dibumi ini akan mendapat berkat, karena engkau telah mendengarkan (Menaati FirmanKu. Kejadian 22:16-18).  Allah mengenal lebih dahulu tentang Abraham, yaitu bahwa Ia telah mengenal Abraham terlebih dahulu sebelum Abraham dilahirkan. (Kejadian 18:19. Dimana Allah berkata bahwa Ia mengenal Abraham dan mengetahui apa yang akan diperbuatNya.
Allah memberi Abraham suatu perjanjian kekal dan suatu Kerajaan kekal “Karena” Ia mentaati syarar-syarat perjanjia Allah. Allah juga memberikan kepada kita suatu perjanjian hidup yang kekal, jika kita “Melakukan pekerjaan Abraham, Alkitab memberi tahu tentang Iman Abraham.
Perjanjian-perjanjian Allah membawa suatu jaminan yang betul-betul terjamin. Perjanjian itu adalah alat untuk menghasilkan kepastian, dan merupakan suatu perjanjian yang pasti. Tetapi kepastian Ilahi ini ditiadakan bagi semua mereka yang melanggar syart-syaratNya.
BAB 5.

SYARAT – JIKA DALAM PERJANJIAN SINAI

Perjanjian sinai adalah berdasar Pada perjanjian Abraham. Itu adalah perkembangan lebih lanjut dari perjanjian Abraham, dan seperti halnya dengan perjanjian Abraham, perjanjian ini adalah juga suatu perjanjian dan bersyarat. ketiak Musa menawarkan kepada Israel tawaran perjanjian Allah, mereka diberi waktu untuk mempertimbangkan syarat-syarat. Perjanjianitu di bicarakan kepada mereka lagi pada hari kedua mereka dapat menerima atau menolaknya. Dengan kehendak bebas mereka, mereka dapat berkata ya atai tidak. Itulah perjanjian yang Allah tawarkan kepada mereka.
Pada bulan ketiga setelah orang Israel keluar dari tanah Mesir, mereka tiba dipadang Gurun Sinai ada hari itu juga. Dan lihat disini selengkapNya (Keluaran 19:1-6, 24:6-8). Allah menjamin semua janji dan ketetapan yang telah dia janjikan dalam perjanjian itu, tunduk dibawah syarat-syarat – Jika. Jika perjanjian itu tidak terlaksana bagi mereka, kesalahan hanya ada pada mereka. Tetapi sang pembuat perjanjian mewajibkan, bahwa untuk masuk dalam berkat perjanjianNya itu, kita harus masuk juga kedalam syarat-syarat perjanjian itu. 
Macam-macam hukuman ditentukan terhadap para pelanggar perjanjian. Mereka dikerat dari perjanjian dan seringkali hukuna mati dijatuhkan keatas putra-putra perjanjian itu, mereka dibunag dari perjanjian dan dibunuh. Dan juga para pelanggar juga kehilangan nyawanya. Itu adalah Dosa yang mendatangkan maut. (1Yohanes 5:16). Pelanggar harus menanggung kesalahannya sendiri. (Imamat 17:16). Jika ada orang yang menolak atau meremehkan hukum musa, ia akan dihukum mati tanpa belas kasihan. (Ibrani 10:28). Tidak ada belas kasihan dari Allah, musa, maupun Israel. Allah berfirman, siapa yang berdosa kepadaku, nama orang itulah yang kuhapuskan dari dalam kitabku (Keluaran 32:33).
Yesus berkata :”Barang siapa menang ia akan dikenakan pakaian putih yang demkian, aku akan tidak menghapuskan namanya dari kitab kehidupan, melainkan aku akan mengaku namanya dihadapan bapaku dan dihadapan para malaikatnya. (Wahyu 3:5). Dan (Roma 1:32. Ibrani 10:26-27. Imamat 26:3-28).  Dalam Ulangan 27:15-26. Musa telah mendaftarkan 12 kutuk yang akan menimpa keatas mereka apabila mereka melanggar perjanjian itu.
Dalam semua hubungan Allah dengan kita, Ia menghargai kebebasan kita. syaratnya disini adalah ketaantan karena percaya. Kata ibrani yang diterjemahkan “Taat” tampaknya mengandung semua pengertian ini:
v  Mendengar, mendengarkan, mempercayakan/memasrahkan, bertidak menurut apa yang kita dengar dan percayai.
Apa bila kamu meninggalkan Tuhan dan beribadah kepada allah asing, maka ia akan berbalik dari padamu dan melakukan yang tidak baik kepada kamu serta membinasakan kamu, setelah ia melakukan yang baik kepada kamu dahulu. (Yosua 24:20). Keselamatan berasal dari bangsa Yahudi. Perjanjian Sinai adalah dari bangsa Yahudi, dan bukti memberi dukungan yang kuat pada kesimpulan kita, bahwa perjanjian ini adalah bersyarat.

PASAL 6

SYARAT-SYARAT DALAM PERJANJIAN DAUD

Perjanjian Abraham adalah pondasi perjanjian Daud, dan juga pondasi perjanjian Baru. (Lukas 1:27, Kis. 3:25, Galatia 3:16). Berkat-berkat dan syarat-syarat dalam perjanjian Abraham dan diteruskan melalui generasi-generasi sesudahnya. Keturunan turun temurn menjadi perjanjian kekal. (Kejadian 17:7) perjanjianitu bersyarat baik bagi Abraham maupun bagi keturunannya. Perjanjian Abraham dimulai dengan ketaatan Abraham pada panggilan Allah. Ketika Raja Saul dengan keras kepala dengan tidak menaati perintah-perintah Tuhan, Allah memberi tahu Nabi samuel. (1Samuel 15:22-26).
Alasan Allah atas penolakan terhadapa Saul sebagai Raja Israel. Pemberontakan / pendurhakaan Saul terhadap perintah-perintah Allah adalah setara dengan “Dosa Pertenungan” dan penyembah berhala. Saul ditolak dan diturunkan dari Takhta Karena Ia gagal menaati Perintah-perintah perjanjian.
JIKA saja Ia taat, Allah tidak akan bermain-main dengan alasan pilih kasih. Daud dipilih untuk menggenapi syarat-syarat yang gagaldipegang oleh Saul. (Kis. 13:22). Dau seperti Abraham, mempunyai kualitas Rohani yang luar biasa. Ia bukan saja bergairah untuk melakukan kehendak Allah, tetapi ia juga mempunyai kehausan yang sangat akan Allah, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikian jiwaku merindukan engkau, ya Allah. Jiwaku melekat kepada-Mu menompang aku. (Mazmur 42:2, 63:9).
Kristus dilahirkan bagi Israel untuk menggenapi janji-janji yang dibuat bagi Abraham dab Daud. (Galatia 3:16, Roma 1:3). Keselamatan berasal dari bangsa Yahudi, tetapi keselamatan ini datang sebagai hasil dari janji-janji yang diberikan kepada orang-orang yang menaati syarat-syarat perjanjian yang telah dibuat bagi mereka. Dari Kain dan Habel sampai pada perjanjian Abraham, sampai pada perjanjian Sinai, sampai pada perjanjian Daud, pengulangan syarat “Jika” dalam perjanjian-perjanjian itu tak pernah berhenti.
Asal saja Jika kamu takut akan Tuhan, beribadah kepadaNya, mendengarkan atau menaati FirmanNya dan tidak menentang tintah Tuhan, dan baik kamu maupun Raja yang akan memerintah kamu itu mengikuti dan terus mengikuti Tuuhan Allahmu! Tetapi jikan kamu tidak mendengarkan firman Tuhan dan kamu menentang titah Tuhan, maka tangan Tuhan akan melawan kamu dan melawan rajamu. (1Samuel 7:3, 12:14-15). Samuel menjadikan sesuatu bregantung pada ketaatan mereka yang terus menerus pada perjanjian.
Daud mengerti bahwa perjanjian yang Allah berikan kepadanya ada;ah bersyarat. ia menegaskan fakta ini kepada salomo sebelum anakNya itu menduduki takhtanya. Daud menyampaikan pesan Allah tentang pemerintahanNya. (1Raja-raja 9:2-9; 8:1-61). Ketika Salomo melanggar perjanjian dengan Allah dan masuk dalam Dosa penyembahan berhala, Allah melaksanakanNya terhadap Dia karena kemurtadannya. Allah memberitahu Dia, didalam kitab (1Raja-raja 11:11-13). (2Samuel 7:12-16).
Allah berjanjia kepada Daud bahwa kerajaannya tidak akan berkesudahan seperti kerajaan Saul yang sudah berakhir. Allah berjanji “Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian.” Pada pakar Ibrani berkata bahwa kalimat ini dipakai dalam Pengertian Kolektif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar