Rabu, 22 Februari 2017

PENGERTIAN KASIH DALAM PL



“KASIH”
ARTI DAN ISTILAH KASIH DALAM PERJANJIN LAMA

Oleh :
Darman Laia  
 


Kata Ibrani kasih adalah ‘Ahaf’. Pemakaian amat luas dan merupakan kata umum dengan beragam makna sesuai kadarnya. Kata ibrani yang lain adalah Dot dan Ra’yah, artinya kasih Asmaradan objeknya ialah Wanita. Kata yadid (Mazmur 127:2), Khashaq (Mazmur 91:14), Khavav (Ulangan 33:3), Agav (Yeremia 4:30), artinya para pencipta dan Rakham (Mazmur 18:1). Kasih dalam PL, baik yang Insani maupun yang Ilahi, adalah ungkapan paling dalam dari kepribadian, sekaligus hubungan hubungan pribadi yang paling akrab dan dekat.
Kata Ahav di pakai dalam bentuk hubungan, misalnya Kasih Allah kepada Manusia yang digambarkan sebagai hubungan Bapa den Anak (Mazmur 6:7). Atau sebagai hubungan Suami Istri (Hosea 1-3). Demikian juga kasih persahabatan, misalnya Kasih antara Daud dan Yonatan (1 Samuel 18) dan hubungan antara Orang Tua dan Anak (Abraham dan Ishak Kejadian 22:2, Ishak dan Esau Kejadian 25:28a).
1.      Kasih dipahami dari Tindakan Allah
Dalam PL maupun PB menegaskan bahwa pemahaman kasih bukan berawal dari konsep, melainkan dari tindakan Allah yang karena keprihatinannya membebaskan umatnya dari penderitaan. Memang tidak dapat diingkari bahwa penyataan Allah dalam PL seringkali digambarkan sebagai tindakan yang mendukung tindakan kekerasan, misalnya :
ü  Allah memerintahkan umat Israel Agar tidak membuat kesepakatan dengan penduduk kanaan dan berjanji bahwa dengan pertolongan Allah, Israel dapat membinasakan mereka semua  (Ulangan 7:1-24)
ü  Umat Israel di perintahkan untuk menghapuskan sama sekali ingatan kepada Amalet dari kolong langit (Ulangan 25:17-19) Dan
ü  Pembinasaan seluruh penduduk Yerikho, berdasar perintah Allah, kecuali Rahab dan keluarganya (Yosua 6:17-21).
Dalam PL nampak dalam Misi atau peristiwa Yunus, yang menekankan bahwa Allah mengasihi semua umat manusia dan tidak menghendaki kehancuran dan kematian mereka, di tempatkan pada perspektif Allah yang tidak menghendaki penindasan terhadap yang lemah dan menghendaki kesejahteraan umatnta.
Visi Alernatif ditekankan juga melalui perintah atau anjuran-anjuran agar Israel juga berbuat baik dan tidak menindas orang Asing (Ulangan 10:17-19).
2.      Kasih Allah yang Menyelamatkan
Karena kasih-Nya, Allah bertindak menyelamatkan manusia tanpa ditentukan dan dipengaruhi oleh keberadaan manusia yang tidak setia, tidak baik, dan tidak menarik. Keberadaa manusia sebagai ciptaanya yang menderita, itulah yang menjdi keprihatian Allah. Allah bertujuan menjadikan manusia lebih baik. Kasih Allah tidak bersyarat, merupakan faktor yang sangat penting dan menentukan bagi umat dalam memandang hukum dan perintah kasih dan perangkat Allah dan sesama Manusia.
3.      Kasih Allah yang Mengubah Dunia
Manusia tidak akan mampu mengubah Dunia. Namun manusia yakin bahwa kasih Allah mampu mengubah Dunia. Persoalannya adalah bagaimana kita sehingga melalui kehidupan kita dimungkinkan terjadinya perubahan kearah yang baik tentunya. Berkali-kali Israel hampir bahkan telah, terjebak dalam penyempitan  arti kasih kepada Allah.
Hal ini tampak jelas dari kritik para Nabi, seperti : Yesaya, Amos dan Hosea. (Yesaya 1:14), (Amos 5:23-24), dan (Hosea 6:6).
Kekuatan Umat Allah/ orang percaya dalam mengubah Dunia bukan semata-mata terletak pada Doa (seperti mantan diktator diatas) dan kesalehan pribadi dalam menjalankan kewajiban Ritual keagamaan, melainkan pada perwujudan kasih Allah yang sudah   diterinya dalam kehidupan sehari-hari melalui perbuatan kasih yang nyata kepada sesama. Pelaksanaan perbuatan kasih ini memberi efek yang baik bagi lingkungan atau Dunia.
4.      Kasih Allah kepada Manusia
ü  Objeknya kasih terutama adalah kelompok kotif (Ulangan 4:37), nenek moyangmu (Amsal 8:17) orang yang mengasihi Aku (Yesaya 43:4
ü  Bersifat Pribadi ini berakar kuat pada sifat Allah sendiri. Kasih itu lebih dalam dari seorang Ibu kepada Anak-anaknya (Yesaya 49:15, 6613). Ini sangat jelas dalam Hosea 1:3. Kasih Alah adalah bagian dari kepribadiannya, dan tidak boleh diguncang oleh murkanya atau dialihkan karena ketidak taatan Objeknya (Hosea 11:1-4, 7:9). Ini adalah acuan PL paling dekat pada deklarasi bahwa Allah adalah kasih.
ü  Sifatnya Efektif, kitab Ulangan khususnya mendasari hubungan perjanjian antara Israel dan Allah pada kasih Allah yang terdahulu. Tuhan mengambil prakarsa dan memilih Israel karena Dia mengasihi mereka (Ulangan 4:37,7:6, 10:15)
5.      Kasih Sebagai Tugas Agamawi
*      Kasih dinyatkan kepada Allah. Mengasihi Allah dalam totalitas dalam diri manusia (Ulangan 6:9). Kasih ini berupa pengalaman penuh kegembiraan dalam persekutuan dengan Allah (Yer. 2:2, Maz. 18:1, 116:1).
*      Kasih terhadap sesama Manusia. Mengasihi Allah dituntut oleh hukum Allah (Imamat 19:18). Jangan membenci seseorang (Imamat 19:17).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar